Follow me on Instagram!

Mengenal Budaya Jepang: Pernikahan Tradisional Shinto!

Halo semua! Hari ini saya datang dengan artikel tentang kebudayaan Jepang nih. Kebudayaan Jepang yang akan kita bahas hari ini adalah tentang pernikahan tradisional ala Shinto! Who's excited?

Pernikahan Tradisional Shinto di Kuil Meiji, Tokyo. Photo by: Tania

Sementara orang Jepang dikenal begitu menghormati budaya mereka sendiri, ketertarikan mereka pada tradisi budaya lain--terutama tradisi Barat--telah mengubah gaya upacara pernikahan di Jepang. Ada bua bentuk utama pernikahan di Jepang, yaitu pernikahan tradisional ala Shinto dan white wedding ala Kristiani. Belakangan ini, kelihatannya white wedding-lah yang justru memenangkan hati orang Jepang. Dalam beberapa tahun terakhir, diperkirakan 80% dari pernikahan di Jepang telah dilakukan dalam gaya white wedding (Sumber: japanology.org).

Meskipun demikian, di tengah-tengah ketertarikan orang-orang Jepang zaman now terhadap white wedding ala Kristiani (meskipun tidak harus memeluk agama Kristen ataupun Katolik ya), masih ada juga kok pasangan-pasangan di Jepang yang melakukan upacara pernikahan dengan ala Shinto. Sesuai dengan namanya, upacara pernikahan tradisional ini tentunya dilangsungkan di kuil Shinto. Pada pernikahan Shinto ini, mempelai pria dan wanita akan mengenakan pakaian tradisional yang elegan, pengantin wanita akan mengenakan kimono putih yang dikenal sebagai shiromuku, dan pengantin pria akan mengenakan kimono hitam beserta celananya yang disebut montsuki hakama, lengkap dengan coat-nya yang disebut haori. (Sumber: japanology.org).

Nah, kalau teman-teman kebetulan sedang mampir ke kuil Shinto di Jepang pada hari Sabtu atau Minggu, teman-teman mungkin akan bisa menyaksikan sedikit prosesi pernikahan tradisional ini nih. Tapi kalau memang kebetulan sedang ada pernikahan ya, tidak selalu juga hehehe. Kalau saya beruntung bisa menyaksikan dua kali, yaitu saat sedang mampir ke kuil Meiji di Tokyo dan kuil Tsurugaoka Hachimangu di Kamakura. Waktu di Kamakura malah diajak foto bareng sama pengantinnya nih!

Mempelai wanita dan mempelai pria menuju ke kuil Meiji. Photo oleh: Tania

Upacara pernikahan diikuti oleh keluarga mempelai. Photo oleh: Tania

Pernikahan tradisional Shinto di Jepang di Kuil Tsurugaoka Hachimangu, Kamakura

Selain kimono, pengantin wanita sering memakai beberapa aksesori rambut yang spektakuler, tsuno-kakushi dan wataboushi. Tsuno-kakushi memiliki terjemahan literal "menyembunyikan tanduk", pemakaiannya melambangkan penutupan terhadap kecemburuan dan egoisme dari mempelai wanita. Dalam kisah kuno dikatakan bahwa wanita memiliki "tanduk" yang melambangkan amarah. Hal ini juga melambangkan kesiapan mempelai wanita untuk menjadi istri yang lembut dan patuh. Kadang-kadang pengantin wanita juga memakai riasan putih, seperti geisha, untuk melambangkan kesuciannya. Pernikahan tradisional Shinto ini bersifat pribadi, hanya dihadiri oleh keluarga.

Tsunokakushi, sumber: www.futarinowedding-mw.com

Wataboushi, sumber: www.futarinowedding-mw.com

Riasan pengantin wanita, sumber: www.ebaumsworld.com

Jadi, bagaimanakah urutan dalam upacara pernikahan tradisional Shinto? Berikut ini yang saya kutip dari www.tsurugaoka-hachimangu.jp.
  1. Sanshin 参進, artinya "berbaris". Para pendeta Shinto diikuti para pemusik kuil dan gadis kuil alias miko memimpin mempelai wanita dan mempelai pria menuju ke kuil, diikuti keluarga dari kedua mempelai.
  2. Shuubatsu no gi 修祓の儀, "upacara pemurnian". Pada awal upacara, pendeta Shinto melakukan ritual pemurnian terhadap mempelai wanita dan mempelai pria, serta para jemaat yang berkumpul.
  3. Norito soujou 祝詞奏上, "selebrasi". Pendeta Shinto akan membacakan naskah untuk mengumumkan pernikahan itu kepada dewa, agar kedua mempelai mendapatkan restu dan perlindungan dari dewa.
  4. Kaguramai 神楽舞, tarian sakral. Gadis kuil atau miko akan menarikan tarian sakral.
  5. Chikai no sakazuki 誓いの盃, artinya "cangkir sumpah". Pengantin saling bertukar cangkir tiga kali dan minum tiga teguk dari masing-masing tiga cangkir anggur beras alias sake yang ditempatkan di hadapan dewa. Prosesi ini umumnya disebut "san-san-ku-do 三 々 九 度" (secara harfiah, tiga tiga sembilan, mengacu pada tiga teguk dari tiga cangkir, total sembilan teguk).
  6. Seishi soujou 誓詞奏上, "sumpah". Kedua mempelai mengucapkan sumpah pernikahan.
  7. Tamagushi hairei 玉串拝礼, "persembahan tamagushi". Tamagushi merupakan simbol persembahan kepada dewa dalam adat Shinto, dibuat dari cabang pohon sakaki yang dihiasi potongan kertas zigzag khas Shinto yang disebut shide. Kedua mempelai mempersembahkan tamagushi kepada dewa sebagai bentuk pemujaan dan ucapan terima kasih yang tulus, atas pernikahan mereka di hadapan dewa.
  8. Yubiwa no gi 指輪の儀, "upacara cincin". Kedua mempelai saling bertukar cincin pernikahan.
  9. Shinzokuhai no gi 親族盃の儀, "upacara minum bersama". Untuk membuat ikatan yang kuat antara kerabat pasangan, mereka berbagi arak beras atau sake yang dipersembahkan kepada dewa.
Tamagushi, sumber: www.hokkaido-sightseeing.com

Nah, kira-kira ini arti dari sumpah pernikahan yang diucapkan pada pernikahan tradisional di kuil Shinto, dikutip dari www.tsurugaoka-hachimangu.jp.


"Kami membuat sumpah pernikahan ini dengan hormat di hadapan dewa."

"Kami (nama mempelai pria dan mempelai wanita) bahagia bisa mengucapkan sumpah pada hari yang luar biasa ini, untuk menjadi suami dan istri melalui restu dari dewa."

"Kami bersumpah di hadapan dewa untuk mencintai dan menghormati satu sama lain selamanya,
dan berusaha untuk membawa kemakmuran bagi keluarga kami."

"Terlebih lagi, kami bersumpah tidak akan pernah keluar dari jalan sejati perkawinan,
dan bekerja untuk berbagi rahmat dewa dengan membantu orang dan masyarakat."


Sungguh agung bukan?

Penasaran dengan kebudayaan Jepang yang tidak kalah menarik? Nantikan di artikel selanjutnya yaa!








Comments